Pages

Banner 468

Jumat, 23 Agustus 2013

GUS DUR DAN KAROMAHNYA

0 komentar
 
Karomah Gus Dur: Gus Dur Tahu sebelum Kejadian "Weruh Sakdurunge Winarah" [bentrok makam mbah priok]

Jakarta, NU Online
Para Waliyullah memiliki berbagai karomah yang menunjukkan kedekatannya dengan Sang Pencipta. Selain kejadian-kejadian aneh, karomah (keutamaan) ini seringkali berupa pengetahuan tentang hal-hal yang akan terjadi pada masa-masa yang akan datang.

Salah satu alasan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sering disebut-sebut sebagai waliyullah adalah pengetahuan Gus Dur mengenai peristiwa-peristiwa yang belum terjadi. Masyarakat Jawa biasa menyebut kemampuan ini dengan istilah "weruh sak durunge winarah." r />
Beberapa ulama dan Kiai banyak menceritakan tentang kemampuan Gus Dur yang satu ini. Selain cerita kebiasaan tidur di kala seminar yang kemudian terbangun dan bicara dengan sempurna mengenai isi pembicaraan sebelumnya, Gus Dur juga memiliki cerita kemampuan "weruh sak durunge winarah" ini di dunia nyata.

Kisah berikut ini diceritakan oleh Katib Syuriyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Jakarta Utara, KH Miftakhul Falah tatkala Beliau turut menunggui Gus Dur yang dirawat di Rumah Sakit Umum Koja Jakarta Utara, sekitar tahun 1994-an.

Dalam ceritanya, KH Miftakhul Falah menceritakan, sewaktu Gus Dur sedang dirawat di RS Koja, beliau menyempatkan diri untuk berziarah ke makam Habib Hasan di Pemakaman Koja. Dalam berziarah ini, Gus Dur selalu ditemani oleh beberapa orang sambil mendengarkan ceritanya.

"Kalau di kemudian hari makam ini dibongkar, maka akan terjadi kerusuhan," kata Miftakhul Falah menirukan kata-kata Gus Dur kala itu.

Menurut Miftah, tidak seorang pun yang mengerti dan akan membayangkan kalimat Gus Dur tersebut akan menjadi kenyataan pada suatu ketika. Namun rupanya, zamanlah yang kelak membuktikan kata-kata Gus Dur tersebut.

"Terbukti. Ketika makam tersebut akan dibongkar, benar-benar terjadi kerusuhan pada bulan April 2010 lalu," tutur Miftakhul Falah.

Menurutnya, banyak kini di antara temen-temannya yang menjadikan kalimat tersebut sebagai bukti kewalian Gus Dur. Ketika orang-orang lain bahkan belum bisa membayangkan, Gus Dur telah mengungkapkannya.

----------------------------------------------------------------------------

Rabu, 14 April 2010
sumber:vivanews.com
kejadian Mistis dibalik bentrok makam mbah priok

Bentrok di makam mbah priok kali ini memang begitu memilukan. Banyak korban berjatuhan baik dari pihak petugas maupun masyarakat. Mungkinkah ini akan mengulang peristiwa tanjung priok berdarah era orde baru...? Semoga aja tidak. Masyarakat sudah semakin sengsara menjadi korban kebiadaban oknum satpol PP dan antek2 nya...terutama masyarakat kaum bawah.

Namun ada kejadian aneh dalam peristiwa bentrok tersebut. Apa saja kejadian aneh dan mistis tersebut...? Simak berita ini:

Eksekusi Makam Mbah Priok

Makam Mbah Priok & Cerita Mistis Satpol PP
Makam Habib Hasan bin Muhammad al Haddad itu kemudian dikenal sebagai Makam Mbah Priok.

Makam Habib Hasan bin Muhammad al Haddad atau yang dikenal sebagai Makam Mbah Priok, Koja, Jakarta Utara, menyimpan cerita sejarah sehingga sangat dihormati warga. Bahkan, ketika pendopo makam akan dibongkar pemerintah, pengikut rela mati mempertahankannya.

Informasi yang dihimpun di lapangan menyebutkan Habib Hasan merupakan salah satu tokoh yang dikenal sebagai penyiar agama Islam. Dia berasal dari Pulau Sumatera.

Habib bisa sampai di tanah Batavia (Jakarta) awalnya karena perahu yang ditumpanginya dihajar badai ketika hendak melintas di dekat Batavia.

Tetapi, pada waktu itu habib selamat dari amukan badai. Konon, dia selamat karena menemukan periuk. Dengan periuk itulah habib berhasil menepi ke Batavia.

Sejak itu, Habib Hasan tinggal di Batavia dan menyiarkan agama Islam di sana. Tidak lama kemudian, kawasan tempat di mana habib pernah selamat dari badai itu dinamai Tanjung Priok.

Habib Hasan meninggal di Batavia. Untuk mengenang perjuangan habib, pengikutnya membangun makam sekaligus masjid untuk mengadakan majelis taklim. Makam di Koja ini kemudian dikenal sebagai makam Mbah Priok.

Tempat itu kemudian dikenal luas. Tiap akhir pekan, sampai sekarang, sedikitnya 1.500 orang mengikuti pengajian di sana.

Sampai akhirnya timbul kasus. Bangunan pendopo makam Mbah Priok dinyatakan berdiri di atas lahan milik PT Pelindo II sehingga menyalahi aturan dan harus ditertibkan.

Sebenarnya sudah beberapa tahun lalu, upaya penertiban pendopo akan direalisasikan. Tetapi, ahli waris makam Mbah Priok menolak keras. Sampai akhirnya, Rabu 14 April 2010, pemerintah mengerahkan petugas untuk mengeksekusi.

Pengikut Habib Ali Zaenal Abidin bin Abdulrahman Al Idrus dan Habib Abdullah Sting, ahli waris makam Mbah Priok, tidak tinggal diam. Mereka menghadang laju petugas hingga akhirnya bentrok fisik pecah dan korban berjatuhan.

Usai bentrok sengit dengan pengikut habib, petugas Satpol PP mendapat pengalaman berbau mistis.

Salah seorang petugas Satpol PP yang dari awal mengamati proses bentrokan fisik mengatakan kendati jumlah pengikut habib tidak ada setengahnya dari Satpol PP, mereka tidak ada yang takut terluka parah sama sekali.

“Sepertinya mereka punya ilmu ghaib. Tidak ada yang terluka berat, saat terkena lemparan benda keras, bahkan maju terus,” kata petugas yang tidak mau disebut namanya itu.

Sebaliknya, justru petugas yang banyak menderita luka. Padahal, petugas sudah mengenakan pakaian anti huru-hara.

Petugas Satpol PP yang bernama Slamet menambahkan malahan ada helm petugas yang sampai pecah karena terkena lemparan dari salah satu pengikut habib.

Tetapi sebaliknya, ketika petugas melempar batu ke arah massa, seolah-olah bagi massa, batu itu tidak berarti apa-apa.

Slamet sangat heran dengan pengalamannya. Dia mengaku merasakan ada kekuatan di luar akal sehatnya yang ikut membentengi lokasi sehingga petugas sangat sulit melaksanakan eksekusi.

Bentrokan fisik yang memakan banyak korban luka di pihak Satpol PP itu akhirnya reda setelah pemerintah dan pengelola makam sepakat berunding.

Mengenai kebijakan eksekusi, dalam berbagai kesempatan Wakil Walikota Atma Senjaya mengatakan bahwa penertiban gapura dan pendopo di makam Mbah Priok ini sudah sesuai dengan instruksi gubernur DKI nomor 132/2009 tentang penertiban bangunan.

Sebab, kata dia, bangunan itu berdiri di atas lahan milik PT Pelindo II, sesuai dengan hak pengelolaan lahan (HPL) Nomor 01/Koja dengan luas 1.452.270 meter persegi.

Sebaliknya, bagi ahli waris makam Mbah Priok rencana pembongkaran justru menyalahi aturan. Sebab, areal pemakaman dan masjid ini telah memiliki sertifikat resmi yang dikeluarkan pada jaman pendudukan Belanda dulu.

Mari Kita Hadiahkan Bacaan Surat Al-Fatihah Untuk Beliau.. ALFATIHAH...
Readmore...
Kamis, 22 Agustus 2013

KEISTIMEWAAN KH. HASYIM ASY'ARI

1 komentar
 

Kiai Hasyim Asy’ari dikenal sebagai kiai besar yang mampu menjalin jaringan keulamaan secara internasional, dan berpengaruh kuat di kalangan para ulama itu. Kapasitas yang dimiliki itu tidak tercipta begitu saja karena beliau adalah orang yang alim atau pandai, itu hanya salah satu faktor. Faktor yang lain adalah ternyata ia sangat peduli dan setiakawan pada siapapun.

Tidak ada kawan dekatnya yang dibiarkan terlantar, kalau sampai dia tahu ada teman atau saudaranya yang kekuarangan atau ada masalah pasti akan segera dibantu sebisanya. Hal itu dilakukan baik semasa belajar di tanah Jawa, maupun di Tanah Suci dan ketika kembali lagi ke tanah air. Tujuannya satu yaitu untuk mencari ridlo Allah di tempuh dengan mengasihi sesama manusia. Pemberian pengajaran juga diarahkan untuk mencapai ridlo Alloh.

Tradisi yang terus dikembangkan hingga menjadi kiai di Tebuireng adalah mengajar mengaji berbagai kitab babon, seperti kitab hadits Bukhori Muslim, termasuk juga Abu Dawud, juga mengajarkan Ihya’ Ulumiddin dan Fathul Wahab. Sebagaimana dimaklumi kita-kitab tersebut tidak hanya besar dari segi isi, tetapi tergolong kitab yang sangat besar halamannya, sehingga harganya tentu sangat mahal. Sementara pada umumnya santri sangat miskin.

Untuk mengatasi mahalnya harga kitab itu kiai Hasyim memberikan kredit dengan cara membeli kitab dan mengangsur pembayarannya kepada siapa saja yang ingin memilki kitab. Tentu saja para kiai dan santri banyak yang berminat dengan tawran itu, termasuk di antaranya seorang santri Tebuireng yang bernama Muchid Muzadi.

Kiai Muchid berminat memiliki beberpa kitab besar terutama Ihya Ulmumiddin, tetapi tidak memiliki cukup uang. Ia lalu menemui Kiai Hasyim memohon pertolongan. Tanpa banyak tanya diberilah pinjaman sebesar Rp 10 (sepuluh rupiah) untuk membeli Kitab Ihya. Kemudian pinjaman itu dicicil setiap bulan minimal seringgit, tidak sampai satu tahun hutang sudah dilunasi, sementara kitab langsung bisa dimiliki dan dikaji. (Abdul Mun'im DZ)
Readmore...

CARA HABIB MUNZIR MENGHADAPI PREMAN

0 komentar
 
Jadikanlah kehidupan anda saat ini adalah medan Jihad, Anda sedang di medan laga,berjihad menundukkan musuh-musuh Anda, yaitu mereka yang mengajak kepada kemungkaran tundukkan mereka,kalahkan mereka. Namun bukan dengan kekerasan dan kebengisan atau senjata, namun tundukkan dengan kelembutan dan kasih sayang, tundukkan dengan akhlak dan bantuan,tundukkan dengan kesopanan dan keramahan.
Niscaya mereka akan tunduk dan menjadi berubah baik, dan menjadi teman anda. Jika tidak mampu Anda menundukkan mereka dengan hal itu, maka jangan kalah pula dengan mereka, tetaplah dalam ketenangan,kelembutan,hadirkan cahaya kelembutan Allah swt saat bercakap-cakap dan bertemu mereka. Anda akan lihat cahaya Allah swt akan membuat mereka tunduk atau paling tidak mereka akan segan dan tidak mau mengganggu anda, malu,dan berusaha tidak terlihat Anda saat bermaksiat. Sungguh orang-orang yang terjebak dalam kemungkaran itu mempunyai hati baik di hati kecilnya. Saya berkali kali menemukan itu di hati mereka, namun kebaikan itu tersembunyi dalam kesombongan mereka. Pernah seorang pemabuk dan preman yang menjadi biang kriminal bahkan konon sering menyiksa dan membunuh, orang tidak melihat ia memiliki sifat baik sedikitpun. Namun ketika saya diadukan tentangnya,pasalnya adalah ketika pemuda sekitar wilayah tersebut ingin mengadakan majelis, namun takut pada orang itu. Mereka akan didamprat dan diteror oleh si jahat itu. Ia adalah kepala kejahatan yang konon kebal dan penuh ilmu jahat. Saya datangi kerumahnya, saya ucapkan salam dan ia tidak menjawab, ia hanya mendelik dengan bengis sambil melihat saya dari atas kebawah, seraya berkata, “Mau apa?”
Saya mengulurkan tangan dan ia mengulurkan tangannya dan saya mencium tangannya, lalu saya pandangi wajahnya dengan lembut dan penuh keramahan. Saya berkata dengan suara rendah dan lembut,
“Saya mau mewakili pemuda sini, untuk mohon restu dan izin pada Bapak, agar mereka diizinkan membuat majelis di musholla dekat sini.” Ia terdiam… roboh terduduk di kursinya dan menunduk. Ia menutup kedua matanya. Saat ia mengangkat kepalanya saya tersentak, saya kira ia akan menghardik dan mengusir, ternyata wajahnya merah dan matanya sudah penuh airmata yang banyak. Ia tersedu sedu berkata;
“Seumur hidup saya belum pernah ada kyai datang kerumah saya…Lalu kini… Pak Ustadz datang kerumah saya, mencium tangan saya… tangan ini belum pernah dicium siapapun. Bahkan anak-anak sayapun jijik pada saya dan tak pernah mencium tangan saya, semua tamu saya adalah penjahat,mengadukan musuhnya untuk dibantai menghamburkan uangnya pada saya agar saya mau berbuat jahat lagi dan lagi…. Kini datang tamu minta izin pengajian pada saya. Saya ini bajingan, kenapa minta izin pengajian suci pada bajingan seperti saya.”
Ia menciumi tangan dan kaki saya sambil menangis, ia bertobat,ia sholat, dan meninggalkan minuman keras dan criminal. Konon dia ini sering mabuk, jika sudah mabuk maka tak ada di kampung itu yang berani keluar rumah.
Namun kini terbalik, ia menjadi pengaman di sana, tak ada orang mabuk berani keluar rumah jika ada dia. Dia menjadi kordinator musholla, ia mengatur teman temannya para preman untuk membersihkan musholla,dipaksanya para anak buahnya harus hadir majelis, dan demikianlah keadaanya. Ia bertempat di Legoa, Priok, tempat yang sangat rawan dengan kriminal. Orang di wilayah itu jika saya datang mereka berbisik bisik, “Jagoan selatan lagi ketemu jagoan utara!
Mereka kira saya mengalahkannya dengan ilmu, padahal hanya kelembutan Muhammad saw yang saya gunakan.
Readmore...

FADHILAH HARI JUM'AT

0 komentar
 
Pada masa Malik bin Dinar, hiduplah dua orang majusi penyembah api, yang berusia 73 taun yang satunya 35 tahun. “kemari !!!” panggil yang muda kepada yang tua. “Apakah api ini akan menolong kita ataukah membakar kita sebagai mana ia membakar orang- orang yang tidak menyembahnya, jika tidak membakar kita ayo terus menembahnya. Tetapi jika membakar kita, maka buat apa kita memujanya ?” “Ya,” Jawab yang lebih tua. Mereka lalu menyalakan api. “Aku apa kamu yang menaruh tangan lebih dahulu?” Tanya yang muda. “Kamu saja,” jawab yang tua. Ia lalu menaruh tangannya di atas api, lalu jari jemarinya terbakar. “Au,” jeritannya, sambil cepat-cepat ia menarik tangannya. “Tiga puluh lima tahun kau kusembah, masih juga kau menyakitiku,” gumamnya. “ayo kita cari Tuhan Yang Maha Esa, yang apabila kita berdosa dan meninggalkan perintahnya selama 500 tahun, misalanya, Ia mau mengampuni dan mema’afkan kita, dengan hanya ta’at satu jam dan hanya dengan
satu kali minta ma’af,” ajak anak muda. Yang tua menurut saja. Katanya, “baiklah. Kita cari orang yang bisa membimbing kita ke jalan yang lurus, yang mengajarkan kita kepada agama islam yang menyelamatkan.” Mereka sepakat menemui Malik bin Dinar di Basyrah. Mereka segera ke bashrah , mereka menemukan Malik tengah berkumpul bersama masyarakat memberikan bimbingan untuk mereka. Melihat hal itu, yang tua berkata, “Tak usahlah aku masuk islam, aku sudah kelewat tua, umurku habis untuk menyembah api, kalaupun aku masuk islam, agama yang dibawa oleh Muhammad itu, tentulah keluarga dan tetanggakku akan mencaciku. Neraka lebih kusuka dari pada cacian mereka.” “Jangan lakukan itu,” cegah yang muda. “Cacian bisa berhenti, tetapi neraka itu abadi.” Nasehatnya . Yang tua tetap menulikan pendengarannya. “kamu adalah kamu, celakalah engkau dan anak- anakmu celakalah hai gelandangan dunia dan akherat,” Makinya. Ia lalu pulang dan tidak masuk islam. Sedang yang muda malah mengajak anak- anaknya yang kecil dan istrinya mengikuti majlis itu hingga malik selesai mengajar, kemudian ia berdiri, mengisahkan sebab dan niatnya masuk islam, juga kerabatnya, mereka lalu masuk islam. Orang-orang yang mendengarnya menangis gembira. Ketika ia bermaksud pulang, Malik menahannya, “Nantilah, duduk dulu hingga kawan-kawanku mengumpulkan sedikit hartanya.” “Tidak, Aku tak ingin menjual agamaku dengan dunia.” Tolaknya, Ia lalu pergi dan memasuk sebuahi puing-puing yang didalmya terdapat rumah tua. Disanalah mereka tinggal. Keesokan harinya istrinya berkata, “Pergilah ke pasar carilah pekerjaan, belilah makanan secukupnya untuk kita makan.” Sesampai dipasar tak seorangpun yang mau memberi pekerjaan yang menghasilkan. “Lebih baik aku bekerja untuk Allah,” katanya kepada diri sendiri.
Ia memasuki masjid yang sepi dari manusia, ia sholat hingga malam tiba, lalu pulang dengan tangan hampa.“Kamu tak mendapat sesuatu,” tanya istrinya. “Hari ini aku bekerja untuk Raja, Hari ini Dia belum memberinya, semoga saja bersok diberi.” Mereka melewati malam dengan rasa lapar. Keesokan harinya ia kembali ke pasar, Masih juga tak dapat pekerjaan, ia kemasjid lagi, sholat sampai malam, lalu pulang dengan tangan hampa.
“Masih juga kau tidak dapat sesuatu?” Tanya istrinya.
“Aku masih bekerja untuk Raja yang kemarin, besok hari jum’at, aku harap Dia akan memberi ku.” Mereka lalu melewati malam dengan menahan lapar. Esoknya yaitu hari jum’at, kembali ia ke pasar, tapi tak juga mendapatkan pekerjaan. Ia lalu kemasjid, sholat dua rakaat, lalu mengangkat kedua tangannya ia mengadu: “Tuhanku !!! pemukaku !!! Junjunganku !!! telah Kau muliakan diriku dengan Islam, telah Kau berikan kepadaku keagungan Islam, telah Kau berikan kepadaku pentunjuk dengan petunjuk yang terbaik. Atas nama kemulian agama yang telah Kau berikan kepadaku dan dengan kemuliaan hari jum’at yang penuh berkah, hari yang
telah Kau tetapkan sebagai hari agung, aku mohon tenangkanlah hatiku karena sulitnya mencari nafkah untuk keluarga. Berikanlah aku rizki yang tak terhingga, Demi Allah ! Aku malu kepada keluargaku, aku takut pikiran mereka berubah tentang islam.” Kemudian ia berdiri dan menyibukkan diri dengan sholat. Ketika tengah hari, sa’at lelaki itu sholat jum’at, sa’at anak istrinya kelaparan, seseorang mengetuk pintu rumahnya, pintu dibuka oleh istrinya, sedang lelaki yang mengetuk pintu itu membawa nampan emas yang ditutup dengan sapu tangan berslulam emas. “Ambil nampan ini. Katakan kepada suamimu,
ini upah kerjanya selama dua hari, akan kutambah bila ia rajin bekerja, apalagi pada hari jum’at seperti ini, amal yang sedikit pada hari ini di sisi Raja Yang Maha Perkasa artinya besar sekali.” Nampan itu dia terima tidak disangka, ternyata isinya 1000 dinar, ia pungut satu dinar untuk ditukarkan kepada di tempat penukaran uang. Pemiliknya seorang nasrani, ia menimbang dinar tersebut, ternyata beratnya dua kali lipat dari dinar biasanya. Setelah diteliti ukirannya barulah tahu bahwa ukiran akhirat. “Dari mana kau dapatkan ini ?” ia bertanya Wanita itupun bercerita. Pemilik tempat penukaran uang langsung masuk islam begitu mendengar ceritanya. Ia memberi wanita itu 100 dirham. “Pakai saja, kalau habis bilang saja padaku, aku akan memberimu lagi.” Sang suami yang masih tetap di masjid malakukan sholat lalu pulang dengan tangan hampa. Diam-diam ia buka sapu tangannya dan mengisinya dengan pasir, “Bila nanti ditanya istriku kujawab saja tepung.” Gumamnya. Ketika memasuki rumah, ia mencium bau makanan. Ia letakkan bungkusan pasirnya di samping pintu agar
istrinya tidak tahu, kemudian menanyakan apa yang terjadi di rumahnya. Sang istri lalu menceritakan seluruhnya, laki- laki itu langsung sujud syukur kepada Allah. “Apa yang Kau bawa ?” tanya sang istri. “Jangan tanyakan itu,” elaknya Istrinya beranjak mengambil bungkusan suaminya dan membuka. Atas izin Allah, pasir berubah jadi tepung. Untuk kedua kalinya laki-laki itu sujud syukur. Ia selalu beribadat hingga akhir hayatnya. Al Faqih berkomentar : Angkatlah tanganmu ke langit dan berdo’alah, “dengan kemuliaan hari jum’at, ampunilah dosa kami, sirnakanlah nestapa kami.” Laki-laki itu ketika berdo’a dengan menyebut kemulian hari jum’at Ia diberi syafa’at.
Allah memberinya rizki tanpa terhingga, demikian juga kita berdo’a pada hari jum’at. Sumber : kutipan dari kitab al Mau’idzotul al ‘Ushfuriah
Diterjamah Oleh : M. Khoiron. G
www.almunawwir.com/index.php/halaman_umum/view_detail/0000000079
Readmore...

KH ZAENAL ABIDIN MUNAWWIR (Krapyak-Jogjakarta) DAN TUKANG BECAK

0 komentar
 

"Ke Nggading berapa, Kang?" Mbah Zainal Abidin Munawwir, Krapyak, menawar becak.

"Monggo mawon. Terserah panjenengan, Mbah", tukang becak pasrah karena sudah kenal.

"Nggak bisa! Sampeyan harus kasih harga!"

"Yah... seribu, Mbah". Itu harga yang cukup lazim waktu itu, walaupun sedikit agak mahal.

"Lima ratus ya!"

Tukang becak nyengir,

"Masih kurang, Mbah..."

"Enam ratus!"

Tukang becak masih nyengir.

"Ya sudah... tujuh ratus!"

Tukang becak sungkan membantah lagi dan mempersilahkan Mbah Zainal naik.

Sampai tempat tujuan, Mbah Zainal mengulurkan selembar uang ribuan tapi menolak kembaliannya. Tukang becak bengong.

"Kalau tadi kita sepakat seribu, aku cuma dapat pahala wajib", kata Mbah Zainal, "kalau begini ini kan yang tiga ratus jadi shodaqohku".
Readmore...

MA'RIFATNYA MBAH KH. MARZUQI DAHLAN (Lirboyo)

0 komentar
 
Ada satu pengalaman menakjubkan saat Gus Mus masih nyantri di Pondok Pesantren Lirboyo. Pada saat itu pengasuhnya adalah KH. Marzuqi Dahlan. Inilah penuturan beliau.
Waktu itu saya dan kawan-kawan sedang berkumpul merencanakan akan ‘ngambil’ tebu. Sebab saya dengar sebentar lagi tebu akan ditebang. Untuk itu, bersama kawan-kawan, saya berencana mencuri beberapa lonjor tebu. Kami waktu itu telah bersiap-siap untuk menjalankan aksi. Kebetulan, lokasi kamar Mars yg saya tempati itu dekat dengan ndalemnya Mbah Marzuqi. Saya berjalan paling depan. Dan ketika saya lewat depan ndalem, tiba-tiba saya dipanggil oleh Mbah Marzuqi.
“Gus, Gus, mriki.” kata beliau yg dengan siapa saja selalu memakai bahasa Jawa kromo, meskipun kepada santrinya yg masih anak kecil. Saya pada waktu itu baru saja masih lulus SR (Sekolah Rakyat, setara SD). Ternyata beliau benar-benar memanggil saya.
“Mriki-mriki, Gus!” (Kesini Gus)
Panggilan beliau tentu membuat saya kaget, sebab berbarengan sekali dengan kegiatan saya yg akan ‘nyolong’ tebu bersama kawan-kawan. Saya lantas mendekat, lalu ditanya begini.
“Gus, sampean doyan tebu?”
Kontan saja, saya kaget bukan main. Saya keringetan pada waktu itu.
Pertanyaan ini membuat saya terdiam dan takut. Saking takutnya, saya tidak bisa bergerak sama sekali. Sebab, sebelumnya saya tidak menyangka tiba-tiba beliau kok bertanya seperti itu.”Nanyanya kok pas sekali.” gumam saya dalam hati.
Beliau lalu menyuruh saya menunggu. Sebentar kemudian beliau keluar dari ndalemnya dengan memanggul seonggok lonjor tebu.
Beliau bilang, “Niki sampean kula pilihaken sing apik-apik Gus.” (Ini, untuk anda saya pilihkan yg bagus-bagus Gus)
Setelah tebu itu diberikan kepada saya, beliau berkata, “Niki dipun bagi kalih rencang-rencang lintune nggih?” (Ini dibagi pada teman-teman yg lain ya?)
Setelah menyaksikan peristiwa itu, akhirnya saya dan kawan-kawan tidak jadi mencuri tebu.
Saya jadi bertanya-tanya, kira-kira siapa ya orang yg telah membocorkan rencana itu? Padahal saat itu beliau kan tidak tahu rencana saya dan kawan-kawan.
Wallahu a’lam bish shawab.

Diambil dari : www.lirboyo.net
Readmore...